Ketika Janin Terdeteksi Cacat

Deteksi cacat bawaan bisa dilakukan sejak masa kehamilan, saat lahir, ataupun di kemudian hari setelah lahir. Dalam masa kehamilan, pemeriksaan bisa dilakukan dengan alat ultrasonograO (USG). Menurut dr. Triono Adisuroso, SpOG, MMed., MPhil., cacat bawaan biasanya paling sering diketahui di usia kehamilan 16-24 minggu atau trimester kedua. Itulah mengapa, trimester kedua merupakan waktu yang tepat untuk mendeteksi kelengkapan organ tubuh atau skrining kecacatan pada janin (fetal anomalies scanning).

Baca juga : Beasiswa s2 Jerman

Meski, beberapa cacat bawaan sudah dapat dideteksi sedini mungkin pada akhir trimester pertama, seperti kelainan bentuk kepala fetal acrania atau anensefalus, dan sindrom Down. Skrining sindrom Down, misal, bisa dideteksi menggunakan USG dengan cara menilai ketebalan lemak tengkuk janin, yang lebih akurat pada usia kehamilan 11s14 minggu. Tentunya, penegakan diagnosis cacat bawaan harus dilakukan secara hati-hati dan teliti, Ma. Perlu diketahui apakah cacat bawaan tersebut hanya melibatkan satu organ tubuh, suatu sindrom (himpunan gejala atau tanda yang terjadi serentak) yang melibatkan banyak organ tubuh (multiple congenital anomalies), serta cacat bawaannya ringan atau berat.

Apabila diperlukan pemeriksaan yang lebih teliti untuk mendukung diagnosis, dokter biasanya akan merujuk pasien untuk pemeriksaan USG (ultrasonografi) khusus ke dokter sub-spesialis fetomaternal. Sub-spesialis fetomaternal merupakan salah satu cabang dari bagian kandungan dan kebidanan (obstetri dan ginekologi) yang mampu mendiagnosis atau mendeteksi kelainan pada janin. Pemeriksaan fetomaternal meliputi deteksi dini fetal abnormalities (kelainan genetik, gangguan pembentukan organ); deteksi keguguran dan stillbirth (bayi lahir dalam keadaan meninggal); preterm delivery (kelahiran prematur); dan skrining untuk kelainan kromosom.

Pemeriksaan analisis kromosom dan DNA juga akan dilakukan jika dicurigai kemungkinan dugaan kelainan genetik sebagai penyebabnya. HARUSKAH DIAKHIRI? Setelah kondisi janin diketahui cacat, ada beberapa hal yang menentukan penatalaksanaan selanjutnya, yaitu: berat atau ringannya cacat bawaan, apa bayi mampu bertahan hidup setelah dilahirkan, dan apakah cacat bawaan tersebut dapat diobati atau tidak. Bila cacat bawaan tersebut bersifat ringan, hanya terbatas pada satu organ (soliter), tidak membahayakan bayi setelah dilahirkan, dan dapat dilakukan penanganan atau pengobatan, baik dengan pemberian obat tertentu maupun dengan operasi, maka sebaiknya kehamilan dilanjutkan.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *