Provokasi Santri-santri Batu Kapur

EMPAT pemuda berkopiah hitam dan bersarung itu berdiri tegap di sebuah tebing miring. Di samping mereka, mesin alat berat backhoe menderu menggaruk-garuk sisi lain tebing. Ketika trompet saronen (instrumen tiup Madura) ditiup tanda pertunjukan dimulai, empat pemuda ”santri” bertelanjang dada dan tak beralas kaki itu kemudian duduk bersila. Tangan mereka memutar-mutar gilis (alat tradisional Madura yang terbuat dari batu untuk menghaluskan jagung). Jagung diganti batu kapur. Lewat pelantang suara, seseorang memanggil mereka. Satu per satu mereka pun menuruni tebing, mendekati penonton dengan berbagai cara. Ada yang berlari zigzag, ada yang berlari di tempat ala militer dengan mata melotot.

Ada pula yang kejang-kejang seperti terkena setrum tegangan tinggi. Itulah adegan pembuka pertunjukan teater bertajuk Mini-mini#3 Batu karya Anwari. Sutradara alumnus Jurusan Seni Drama, Tari, dan Musik Universitas Negeri Surabaya tahun 2014 itu menggelar pertunjukan unik di penambangan batu putih di Desa Jaddih, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Madura, Rabu sore dua pekan lalu. Anwari memanfaatkan sebuah tanah lapang di lokasi penambangan batu kapur milik Haji Mustofa di Kecamatan Socah. Mustofa adalah pemilik tempat wisata kolam renang Goa Pote, yang juga terletak di lokasi tambang galian C terbesar di Bangkalan tersebut. Boleh dibilang lokasi pertunjukan di penambangan batu kapur itu begitu alami, terletak di sebuah lembah yang dikelilingi tebing bukit kapur.

Di tebing itu ada ruangan-ruangan kecil tempat para penambang berteduh dari sengatan matahari. Pertunjukan teater ini hampir tanpa dialog, kecuali prolog sutradara di awal pentas. Para pemain menampilkan adegan seperti penambang batu kapur tengah beraktivitas. Karena itu, pentas ini dimulai pukul 16.00. Waktu ini dipilih lantaran aktivitas penambang sedang ramai. Ada suara mesin chain saw, suara alat berat backhoe, serta deru kendaraan pickup dan dump truck yang hilir-mudik. ”Kami lebur dengan realitas kehidupan para penambang batu,” kata Anwari. Mereka memulai pementasan pukul empat sore agar benar-benar menyatu dengan aktivitas alami lokasi tambang. ”Kami juga meminjam alat berat agar jadi bagian dari pertunjukan,” ujar Elyda K. Rara, produser pentas.

Bagus Pandega menunjukkan bahwa karya seni tidak harus diam

Bygone merupakan tafsir literal dan kontemplasi personal sang seniman melihat kehidupan yang sudah berlalu. Beberapa karya dalam pameran ini memiliki sistematika yang sama dengan durasi berbeda. ”Kadang nyala sendiri, kadang nyala bareng. Seperti itulah kehidupan,” kata Bagus mencontohkan tiga seri karya A Tea Poi On Moo. Pada seri karya itu, Bagus merancang instalasi turntable, vinyl, yang berputar otomatis dengan sistem relay elektronik dan disorot lampu meja. Tiga karya ini berputar secara acak. Ketika berputar, tiga vinyl yang diberi stiker bibir di sekelilingnya itu menampilkan animasi bibir bergerak yang mengucapkan saya tidak tahu, saya tidak yakin, dan lihat saja nanti.

Website : kota-bunga.net

Tiga kalimat yang merujuk pada ketidakpastian itu sendiri. Telah lama Bagus menjadi kolektor vinyl. Sesekali, dalam beberapa bulan, alumnus magister seni murni dari Institut Teknologi Bandung ini memborong ratusan vinyl tanpa melihat judulnya. ”Banyak musik yang belum pernah saya dengar. Tapi pernah saya mendapat edisi emasnya Michael Jackson,” katanya. Vinyl juga jadi medium yang dipilih Bagus dalam membuat Polka, karya yang menampilkan putaran acak dari 16 piringan hitam yang disusun dalam rak kaca. Di ruang hening, sistem elektronik yang memutar vinyl secara acak ini akan terdengar seperti bunyi halus orang bernyanyi seriosa. Namun suara itu tenggelam dalam kegaduhan bunyi bermacam karya Bagus dalam ruangan ini. l l l DINDING putih sepanjang galeri tak luput jadi ”kanvas” sang seniman.

Bagus memasang di dinding itu rangka besi dan lampu sirene kuning sepanjang enam meter yang terhubung dengan sistem elektronik. Deretan lampu itu berpendar dan berputar tanpa pola. Tapi, sesekali, kata ”Peak” terbaca di antara pendaran lampu itu. Tak ada suara yang keluar dari karya ini, tapi, ”Karya ini membutuhkan usaha lebih lama,” kata Bagus. Dalam karya itu, Bagus juga tidak menyembunyikan lilitan berbagai macam kabel listrik. Semuanya terekspos. Di ruangan lain, Childhood Mixed Fantasy dipresentasikan dalam gelap. Dalam karya ini, Bagus merancang pelat berbentuk bundar dipasangi baut-baut dan berotasi layaknya piringan hitam raksasa. Tiap kali bautbaut itu menyentuh delapan switch yang menggantung di atasnya, sentuhan tersebut memicu keluarnya bunyi dari delapan motor music box yang terhubung. Lampulampu LED yang tersusun dari kabel akan merespons bunyi-bunyian dari kotak musik dengan menyala bergiliran.