Tawuran Antar Sekolah

JAKARTA — Tawuran pelajar di kawasan Permata Hijau, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada Sabtu dinihari pekan lalu, yang menewaskan AH, 16 tahun, secara mengenaskan diduga diatur oleh sejumlah alumnus, yang antara lain dari Sekolah Menengah Atas Negeri 32 Cidodol, Jakarta Selatan. “Ada yang membuat skenario untuk tawuran. Salah satunya alumnus dari sekolah kami,” kata Wakil Kepala SMAN 32, Sujoko, di ruang kerjanya, kemarin. “Alumnus yang mengajak dan mengatur tawuran.” Sujoko menyebutkan informasi tersebut dia ketahui dari keterangan polisi berdasarkan pengakuan para siswa yang ditangkap. Bahkan penyidik tengah memburu seorang alumnus SMAN 32 yang baru lulus tahun ini dan belum mengambil ijazah. Polisi pun telah memeriksa 26 siswa, tapi sebagian dipulangkan karena tak melakukan tindak pidana. Kepala Kepolisian Resor Jakarta Selatan Komisaris Besar Indra Jafar mengatakan 29 pelajar ditangkap sejak Ahad malam lalu.

Sebelas orang di antaranya menjadi tersangka karena membawa senjata tajam dan air keras, sedangkan 18 lainnya masih diperiksa. Tawuran di depan Apartemen Belezza, Jalan Permata Hijau, tersebut melibatkan kuranglebih 50 remaja sekitar pukul 03.30 antara geng SMA Muhammadiyah 15 melawan gabungan siswa SMAN 32 Cidodol, Madrasah Anajah, serta Husni Thamrin. Kelompok kedua dikenal sebagai geng Gusdon (Gusuran Donat). Gusuran Donat adalah nama kawasan di bekas gusuran gedung Sekolah Menengah Pertama Negeri 267, yang biasa disebut SMP Donat (Dua Enam Tujuh). Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Stefanus Tamuntuan menyebut peristiwa ini tawuran antargeng ketimbang tawuran pelajar. Tawuran direncanakan dan telah disepakati di media sosial Instagram dan Line pada Jumat malam lalu. “Setelah itu, masing-masing mengabari teman mereka via grup WhatsApp,” ucapnya, dua hari lalu. Indra menerangkan, mereka menenggak minuman keras sehingga bertindak sadis. “Sebab, selain membacok, mereka menyiramkan air keras kepada korbannya,” ujarnya, kemarin.

Menurut Indra, AH, siswa kelas X SMA Muhammadiyah 15 Slipi, Jakarta Barat, bagian dari kelompok lawan Gusdon. AH terjatuh dari sepeda motor, lalu dikeroyok. Tubuhnya dibacok dan disiram air keras. Semula, AH diduga korban begal, tapi dia terbukti terlibat tawuran. “Geng Gusdon yang mengeroyok (AH).” Kepala SMA Muhammadiyah 15, Asrunas Imran, membantah kabar bahwa AH terlibat tawuran. Dia menjelaskan, pada Jumat malam lalu, empat siswanya, termasuk AH, dicegat sekelompok remaja ketika hendak pulang dari kawasan Bulungan, Jakarta Selatan, sekitar pukul 03.00. Temanteman AH berhasil kabur, tapi AH terjatuh dari sepeda motor, lalu menjadi bulan-bulanan. “Lebih seperti dibegal dibanding tawuran.” Dia memastikan bakal mengeluarkan anak didiknya dari sekolah jika terbukti terlibat tawuran. Tahun lalu, enam siswa dikeluarkan karena kasus tawuran.

Perangkat yang Harus Jauh dari Anak Anak Selain Genset Bali

Perangkat yang Harus Jauh dari Anak Anak Selain Genset Bali – Penyimpanan cairan pembersih dan obat-obatan yang mengandung bahan kimia jangan dianggap enteng. Salah-salah bisa menjadi masalah besar.

KEHIDUPAN MODERN

semakin sulit untuk dipisahkan dari berbagai cairan permbersih. Mulai peralatan makan, perabot dapur, keramik, kaca, pakaian, rambut, gigi, kulit, semua dibersihkan dengan cairan khusus buatan pabrik. Kita juga semakin rutin menggunakan insektisida untuk membasmi serangga. Karena keberadaan cairan-cairan itu mempermudah pekerjaan kita, makin banyak cairan sejenis yang “bertebaran” di rumah kita. Kita juga cukup tergantung dengan berbagai macam obat-obatan. Umumnya di rumah tersedia obat-obatan P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan), obat patuk, pilek, demam, dan diare. Pada saat sakit, obat-obatan akan membantu proses penyembuhan.

Namun saat tak dipergunakan, kadang kita lalai untuk menyimpan obatobatan dengan hati-hati. Mengapa hal ini menjadi penting untuk kita bicarakan? Alasan utamanya karena berbagai macam cairan pembersih, insektisida, dan obat-obatan dibuat dari bahan-bahan yang mengandung zat kimia. Obat-obatan, akan menjadi sesuatu yang baik bila dikonsumsi oleh orang yang sakit dengan dosis yang tepat. Namun sebaliknya, obat bisa menjadi racun yang cukup mematikan jika dikonsumsi oleh orang yang tidak tepat.

Banyak kasus keracunan di lingkungan rumah tangga terjadi akibat penyimpanan bahan-bahan pembersih dan obat-obatan yang tidak pada tempatnya. Yang kerap menjadi korban adalah anak-anak. Mengapa? Karena anak usia batita (bawah 3 tahun) punya fase di mana mereka akan memasukkan semua benda yang mereka temui ke dalam mulut. Dengan rasa ingin tahu yang besar terhadap berbagai hal, anak-anak yang lebih besar juga mudah tergoda untuk mencicipi cairan pencuci piring yang berbau harum, misalnya, atau kapsul obat yang berwarna menarik. Untuk itu, diperlukan kehati-hatian dalam menyimpan obatobatan dan cairan yang mengandung bahan kimia. Agar anak tidak keracunan, simpan obat dan cairan pembersih pada storage yang tepat. Letakkan di area yang mudah diakses agar pada saat dibutuhkan mudah ditemukan. Namun, tempatkan posisinya minimal 125 cm di atas permukaan lantai agar tidak mudah dijangkau anak-anak.

CLEANING TOOL ORGANIZER

Untuk menyimpan cairan pembersih beserta peralatannya, Anda bisa menggunakan cleaning tool organizer. Organizer yang terbuat dari kanvas keras atau terpal yang dikombinasi plastik ini bisa menjadi tempat untuk menyimpan perlengkapan bersih-bersih. Terpal atau kanvas dilengkapi dengan kantong-kantong dan karet untuk menahan benda-benda yang berukuran cukup besar (sapu, pengepel, dan kemoceng) agar tidak jatuh. Sedangkan botol-botol cairan pembersihnya ditempatkan dalam kantongkantong yang diletakkan di bagian paling atas supaya hanya orang dewasa yang bisa mengambilnya. Organizer ini juga tidak memakan banyak tempat karena cukup dipakukan ke dinding. Sebaiknya organizer ini ditempatkan di area servis pada tempat yang tidak lembap. Anda juga bisa menyimpan cairan-cairan pembersih dalam sebuah kabinet gantung yang tertutup dan dilengkapi dengan rak-rak. Kabinetnya harus terpisah dengan kitchen set. Jangan pernah menyimpan cairan pembersih di dalam kitchen set, karena cairan bisa saja tumpah atau botolnya bocor sehingga dapat mengkontaminasi bahan makanan atau peralatan memasak.

KOTAK OBAT

Kita tidak pernah tahu kapan kecelakaan terjadi di rumah: anak yang memar karena terjatuh, jari yang teriris pisau. Saat kondisi shock, kadangkadang kita tidak dapat berpikir jernih sehingga di mana kita meletakkan obat pun sering tak teringat lagi. Itulah mengapa kotak obat wajib tersedia di rumah. Dengan adanya kotak obat, kita langsung tahu ke mana harus mencari obat-obatan yang diperlukan. Kotak obat bisa berbentuk kotak yang moveable (mudah dipindah-pindah), ada juga yang tidak moveable seperti lemari obat dan rak gantung yang dipasang ke dinding. Material kotak/rak/ lemari obat pun cukup beragam, mulai plastik board, kayu, aluminium, atau plywood. Yang paling penting dari sebuah kotak obat adalah ia bisa menjadi tempat yang aman untuk menyimpan obat-obatan dan peralatan P3K. Kotak/rak/lemari obat harus dilengkapi dengan tutup atau pintu yang dapat dikunci. Pada saat tidak diperlukan, sebaiknya selalu dalam kondisi terkunci.

Tempatkan kotak/rak obat pada area yang mudah diakses sehingga akan mudah ditemukan saat obat dibutuhkan dalam waktu singkat. Carilah ruang yang tidak lembap dan cukup terang untuk meletakkan kotak/rak/lemari obat agar obat tidak mudah rusak. Biasanya hingga usia 6 tahun anak masih memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, termasuk mengetahui isi lemari obat dan mencoba isi dalam botol obat. Tinggi tubuh anak hingga usia 6 tahun mencapai sekitar 115 cm. Letak kotak atau rak obat harus lebih tinggi dari tinggi tubuh anak. Buatlah tinggi penempatan kotak atau rak obat di atas 125 cm dari lantai.